Teman, itulah kata yang berarti kesetiaan
Teman, adalah sesuatu untuk bersama
Teman, tak hanya dikala suka saja
Teman, membantu melakukan sesutu
Berbagi .....
Mengabdi .....
Mengasihi ......
Menemani .......
Temanku berkata kepadaku
Jangan lakukan itu !
Tetapi apa dayaku
Aku melakukan itu
Temanku menertawakanku
hahaha ngapain kamu ....
Tetapi aku,
Tetap menangis tersedu
Temanku menghajarku
Hentikan .... !
Aku diam saja
membatu
Temanku, ijinkan aku mengataimu
ASU ...... !
.................
.................
Aku Selalu Untukmu !
Bulan-bulan yg penuh ketidakpastian
Belum ada kejelasan
Masih terombang-ambing di tengah samudra
Pemegang kendali, sementara masih sama
Entah sampai berapa lama lagi
Cap, beri kami petunjuk ...
Malam itu sekitar pukul 1/2 11 lebih cepat satu jam dibandingkan Indonesia, melajulah kami dari Farrer menuju bras basah
Dengan sedikit keterpaksaan dia pun ikut serta, menyusuri bawah tanah yg mulai sunyi
Perpindahan MRT di stasiun Dhoby Ghaut memaksa menaiki tangga jalan dan disaat itulah dia .....
hingga tiba di bras basah semua terasa bgitu cepat, terima kasih untuk malam itu
Kenangan di Bras Basah .....
Kata seorang pujangga lama bahwa seorang pria atau laki-laki dilihat dari masa depannya sedangkan seorang wanita atau perempuan dilihat dari masa lalunya
bener juga sih
setuju
tapi pada kenyataannya wanitalah yang sering mengorek-ngorek masa lalu pria
kalo emang sayang ya ayo kita gandengan
kalo g sayang ya tolong jangan buat aku jadi sayang
kalo disuruh pilih, pilih Via Vallen ato Nella Kharisma?
kalo aku y tentu pilih Via Vallen dibanding Nella Kharisma kenapa? karena lebih enak dipanggil SAYANG dari pada cuma jadi KONCO MESRA
hehehe
Pagi itu setelah waktu subuh, bbm ku berbunyi... tung ting ...
"yok opo kabare rek? waras ta?"
"kabarku apik cuk, ki lg ning jeding"
"jancuk kon, awakmu saiki ning ndi? isih ning Semarang?"
"isih, opo'o?"
"mene aku atene ning semarang"
"ya wis to, sesok tak temoni, hotele sih koyo biasane ta?"
"iyo isih ning daerah pekojan"
"ya wis beres, sesok nek pas aku selo tak mampir"
"oke"
"kabarmu apik2 to?"
"iyo apik2 wae"
"wis rabi rung?"
"yo doakan aja ya, semoga isok tahun iki"
"amin, ya wis tak teruske sek wis g kuat ki..."
"jancuk..."
Sahabatku dari Surabaya besok berkunjung ke Semarang, teman seperjuangan waktu di Surabaya dulu. Jadi inget masa-masa waktu dulu di Surabaya. Yok Opo Kabare Rek?
Hari itu Sabtu, 29 Agustus 2015 seusai subuh
berdua kami menyiapkan segala keperluan karena memang sesuai rencana jika hari
ini kami mudik ke Pemalang untuk persiapan kelahiran disana. Pagi itu juga kami
ke dokter kontrol apakah kuat kondisi istri bila melakukan perjalanan. Lampu
hijau didapat, karena menurut si pemeriksa masih lama. Well, lets get the
journey begun.
Sore sekitar pukul 4, kami berempat aku istri
mertua berangkat ke Pemalang, kondisi mobil InsyaAllah oke semua palingan
bensin yang tinggal setengah. Melaju 40-50km/jam di jalanan kota yang memang
lumayan macet maklum malam minggu hingga akhirnya masuk tol, tancap gas hingga
keluar tol, Trafiic Light Ngaliyan yang biasa macet di akhir pekan sepi bahkan
masih hijau. Perjalanan lancar hingga akhirnya sampai ke Weleri, kebetulan
istri duduk disampingku mulai mengerang kesakitan. Weleri - Comal masuk magrib
dimana lalu lintas ramai lancar dengan perbaikan jalan pantura yang
Alhamdulillah g bikin macet dan disertai suara erangan istri dan debu2 yang
mulai menempel di kaca mobil. Konsentrasi tingkat dewa memang, hahaha.
Sampai di Comal mampir di Klinik bersalin di
pinggir jalan, kata yang jaga masih bukan 1,5 lanjut broooo!!!
Jujur sempet g tega juga liat istri yang terus
mengerang. Jam 8 Alhamdulillah sampailah kami di tempat yang telah ditentukan,
klnik bersalin di Beji Pemalang. Masuk istri di ruang persalinan. Sudah bukaan
4, what? cuma butuh waktu 18 menit dari bukaan 1.5 ke 4. Akhirnya setelah
bukaan 8, sebagai lelaki sejati melangkahlah ke ruang itu. Kurang lebih 1 jam
akhirya Ang Junior Lahir. Selamat Datang di Dunia anakku, selamat datang di
keadaan yang kelak nantinya bisa membuatmu berpikir jauh lebih dewasa lagi
dibanding ayahmu ini. Beberapa pelajaran yang bisa aku ambil hikmah dari peristiwa
ini, pertama bahwa seperti itulah ibu/mama/umi/emak ato apalah menahan sakit
ketika akan melahirkan kita, makanya jangan sekali kali kita durhaka terhadap
beliau. Kedua melihat kejadian itu juga jangan kita sebagai lelaki khususnya
suami untuk mencoba menghianati istri ato pasangannya, bener deh g tega banget.
Akhirnya babak baru Ang pun dimulai, menjadi
seorang ayah.
Menempuh jarak cukup jauh telah membuatku menjadi pribadi yang sanggup untuk menyadari apa yang akan menjadi langkah hidupku. Semua yang telah kualami dan semua yang telah kulalui baik itu suka duka, susah senang akan menjadi warna sendiri dalam hidupku.
Dibesarkan di kota ukir Jepara, aku melalui hari - hari selayaknya anak-anak normal lainnya, menjalani masa sekolah dari taman kanak-kanak hingga menyelesaikan sekolah tingkat atas di kota Kartini tersebut.
Sebagai seorang anak tunggal di keluarga yang menurutku sangat harmonis, penuh rasa cinta dan kasih, aku dididik oleh kedua orang tuaku untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Sebisa mungkin berusaha dengan kemampuan sendiri dari pada terus bergantung pada orang lain.
Memori yang terekam sewaktu aku duduk di bangku taman kanak-kanak tidak banyak, ada beberapa hal yang masih terngiang dalam ingatanku salah satunya ketika hidungku berdarah ketika main luncuran, tak sengaja karena ingin meniru teman-teman yang meluncur dengan berbagai gaya. Malang bagiku, ketika giliranku hidungku berbenturan dengan pembatas, alhasil darah mengucur keluar dari hidungku.
Oh iya, sewaktu taman kanak-kanak aku cenderung pemalu, pendiam dan hal itu yang menjadikan diriku sekarang ini dikenal sebagai seorang introvert.
..............................
huh, lagi-lagi seperti ini, lagi lagi seperti ini
Apa seh sebenarnya mau kamu?
Keluarga selalu dijadikan alasan, kelamaan nunggu kl 2-3 th lagi lah, yang cocok lah, yang ini, yang itu. Ya emang namanya mau hidup bersama ya menyatukan 2 watak yang berbeda, bukan mencari yang sama. Percuma kalau semuanya sama, g ada seninya.
Apa ya g mikir dah hampir 6 tahun, mosok yo mau di buang begitu aja, ckckckck, heran aku, bener-bener heran malah.
Waduh jangan kaget dahulu membaca judulnya, gempa lokal tersebut terjadi di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara. Ya, tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah riuh gemuruh para suporter. Baik suporter Persijap sendiri maupun suporter tim tamu.
Semula suasana tidak begitu meriah, namum memasuki babak kedua, dimana para suporter tamu merangsek masuk stadion, yang menyebabkan dukungan bagi tim tamu pun bertambah. Seakan tak mau kalah suporter Persijap juga lebih bersemangat lagi mendukung tim kebanggan kota ukir ini. Apalagi setelah tim tuan rumah berhasil mencetak gol, luar biasa sorak sorai dan gemuruh para suporter meledak dalam kegembiraan.
oh gempa lokal di Jepara
Riuh bergemuruh
Teriakan, pujian, sanjungan
Bersalaman, berpelukan
Semua melebur menjadi satu
Tumpah ruah meluapkan kegembiraan
Sesaat aku terbangun, reflek pandanganku tertuju kearah jam dinding kamarku, oh masih jam 2 pagi.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamarku yang sangat panas ini, meraba-raba dinding mencari saklar untuk menyalakan lampu ruang tengah.
Kubuka lemari es dan kuambil sebotol air putih, tanpa ampun kuteguk sampai botol itu habis, maklum cuaca saat itu memang panas sekali.
Kulangkahkan kakiku lagi menuju kamar, kumatikan saklar, lalu ......
Aku rebahkan tubuh ini di kasur dan kupejamkan mata ini lagi
............
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika masih duduk di bangku SMU, aku sering sekali bercerita dengan temen-temen sebaya, kami sering bercerita tentang cinta.
Ya lagi-lagi masalah percintaan, maklumlah darah muda, yang muda yang bercinta yang tua pusing dibuatnya
HAHAHAHAHA
Kata seorang temen, wanita itu punya hak untuk dipilih sedangkan laki-laki punya hak untuk memilih
apakah itu benar?
Tetapi kenyataannya, sekarang si wanita yang punya kebebasan milih cowok,
binggung aku
Tak terasa ya tiga bulan aku bercumbu dengan kota kelahiranku, Jepara tercinta. Kini tiba saatnya aku kembali lagi selingkuh dengan Jogja, tempat dimana saat ini aku menuntut ilmu. Tiga minggu bukan waktu yang singkat, tetapi juga tidak terasa. Jepara, aku akan selalu merindukanmu, rindu akan pesonamu, rindu akan segalanya yang ada dalam wilayahmu. Jepara aku berjanji tak lama lagi aku akan kembali. Jogja sambutlah kedatanganku dengan keramahanmu.
Wah pagi ini aku keliatan kurang kerjaan, ya tapi inilah yang sesungguhnya, sehabis subuh langsung aku tancap keluar di keheningan Jepara. Berkendara berkeliling kota menikmati indah dan sejuknya udara pagi. Tak terasa aku melewati depan SMU ku dulu, sejenak aku berhenti karena terhadang merahnya lampu. Aku sedikit mengenang masa-masa sekolah dulu, tempat dimana aku menuntut ilmu dan mencari jati diri. Hijau warna lampu kutancap gas kencang seakan meledek Polisi yang sedang berjaga si depan kantornya. Sampai juga akhirnya aku di pinggir pantai, dingin sekali udara disana, ombak menari-nari, angin bertiup sepoi. Ku masukkan kakiku ke air, kuusapkan asinnya air laut ke mukaku, seraya berkata. "Aku bahagia sekali". Yah inilah cerita singkat Teluk Awur Di Kala Fajar.
lama tak bersua kawan lama, rindu juga, berkumpul kita duduk berdampingan saling cerita apa yang telah kita perbuat. Tak lupa semua membahas soal CINTA. Ternyata papatah habis sepah manis dibuang itu benar, tetapi masih ada lanjutannya, kalo sepahnya masih terasa manis ya ga apa-apa dipertahankan.
hahahahahahahahaha
Ketawa semua yang ada disana mendengar gurauan tersebut, tak terasa adzan mengalun merdu dari Masjid deket Alun-Alun. Seusai sholat berlanjutlah cerita, semua menceritakan pengalaman cintanya masing-masing tak terkecuali aku yang dengan semangat menceritakan dia. Bener-bener ini menjadi sore yang indah bagiku dan temen-temenku. Sayang waktu terasa cepat sampai-sampai adzan isya' kembali bergema, saatnya kami semua pulang kerumah masing-masing dengan harapan lain waktu bisa bertemu lagi. oh bener-bener Sabtu sore di Alun-alun Jepara